Rabu, 16 November 2011

Mengatasi Demam Panggung


Mengatasi Demam Panggung

Salah satu hal menyenangkan bagi seorang musisi adalah bermain musik dan menampilkankannya di depan penonton. Bisa mengekspresikan diri lewat musik, membagikan musiknya dan menerima energi kembali dari penonton itu seperti menjadi ‘candu’ bagi mereka. Namun tak selamanya yang terjadi bisa seideal itu, akibat munculnya performance anxiety atau kecemasan penampilan atau biasa dikenal dengan demam panggung. Alih-alih merasakan kesenangan bermusik, seorang musisi justru merasakan stres hingga kemudian merusak penampilan mereka.

Lalu, bagaimana seorang musisi bisa mengatasi demam panggung itu?

Apa Itu Demam Panggung?

Demam panggung bisa dialami siapa saja, mulai dari anak yang baru belajar musik, remaja, dewasa dan bahkan musisi-musisi besar. Beberapa musisi besar yang diketahui mengalami demam panggung ini adalah pianis Artur Rubinstein dan Vladimir Horowitz serta penyanyi populer Barbra Streisand dan John Lennon. Psikolog biasa mendefinisikan demam panggung ini dari sumber serta kondisi yang dihasilkannya. G.D. Wilson dan D. Roland berhasil mengidentifikasi 3 sumbernya, yaitu orang yang bersangkutan, situasi dan tugas musikalnya. Bagian setelah ini adalah penjelasan terkait ketiga sumber tersebut.

Gejala Demam Panggung

Jika seseorang mengalami demam panggung, gejala fisik yang dialami mirip dengan gejala ketika seseorang sedang terancam atau takut. Contohnya seperti: jantung berdetak kencang, keringat berlebih, kurang nafas, mulut kering, mual, sakit perut, otot tegang, tangan bergetar hingga pandangan yang mengabur.

Gejala-gejala ini kemudian yang akan menurunkan kualitas penampilan seorang musisi. Misalnya, gangguan penglihatan yang disebabkan membesar dan mengecilnya pupil, bisa saja membuat seorang musisi tidak bisa membaca partitur di hadapannya. Atau, ketegangan otot dan tangan gemetar bisa membuat pemain gitar tidak bisa menekan senar di nada yang tepat.

Untuk mengatasi gejala ini, solusinya adalah dengan melakukan relaksasi. Relaksasi bisa dilakukan dengan tarik nafas dalam-dalam sebelum tampil atau dengan mengencangkan lalu mengendurkan otot berulang-ulang dalam beberapa saat. Selain relaksasi, bisa juga dengan mengkonsumsi obat. Namun, perlu diwaspadai bahwa obat-obatan ini bisa menimbulkan efek samping, seperti menurunnya sensitivitas mengekspresikan diri, khususnya jika dikonsumsi dalam jumlah besar.

Orang Sebagai Sumber Kecemasan

Mengatasi gejala fisik seringkali tak sepenuhnya menghilangkan demam panggung. Bagaimana seorang musisi berpikir; sikap, kepercayaan, penilaian dan tujuan, juga berpengaruh dalam penciptaan kecemasan. Sumber pertama adalah kecenderungan untuk menjadi cemas, yang merupakan dampak dari self-handicapping (penghambatan diri) dan perfeksionisme. Penghambatan diri adalah ketika seorang musisi terlalu memikirkan bagaimana opini/penilaian orang lain terhadap dirinya. Sedangkan perfeksionisme adalah ketika seorang musisi memiliki harapan tidak realistis terhadap dirinya sendiri.

Untuk bisa mengatasinya, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan, yaitu: (1) belajar menerima kecemasan dalam kadar tertentu dan juga kesalahan-kesalahan kecil selama tampil; (2) menghargai proses saat tampil daripada sibuk dengan pendapat penonton; dan (3) musisi belajar untuk mengenali pemikiran-pemikiran yang tidak realistis atau tidak produktif, dan menggantinya dengan pemikiran-pemikiran yang realistis dan fokus pada tugas yang harus dilakukan. Bentuknya adalah dengan self-talk, atau bicara pada diri sendiri. Contohnya, musisi diminta mengganti pikiran-pikiran kritis seperti “Nanti bagaimana jika ada bagian yang lupa?” atau “Saya harus tampil sempurna,” dengan pernyataan konstruktif seperti “Saya sudah mempelajari lagu ini secara utuh dan sudah sangat siap membawakannya” atau “Saya perlu konsentrasi dalam menjaga tempo.”

Setelah memahami apa itu demam panggung, gejala dan si musisi sendiri sebagai sumbernya, sekarang akan dijelaskan beberapa sumber lanjutan serta metode mengatasinya.

Situasi Sebagai Sumber Kecemasan

Sumber kedua dari demam panggung adalah situasi saat seorang musisi sedang tampil. Apapun yang bisa meningkatkan perasaan terancam dalam diri musisi, akan juga meningkatkan kecemasan yang dialami. Namun yang paling signifikan pengaruhnya adalah keberadaan penonton.

Kecemasan akan cenderung meningkat pada saat musisi berada “on the spot” atau jadi pusat perhatian, serta saat berhadapan dengan penonton dalam jumlah besar. Selain itu, kecemasan akan naik jika salah seorang penonton adalah orang yang penting, seperti teman, keluarga atau musisi handal. Dan terakhir, yang tak kalah membuat cemas, adalah saat musisi berhadapan dengan juri di suatu kompetisi atau audisi.

Ketika dihadapkan dengan kecemasan situasional, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk menghadapinya. Pertama, jika musisi punya kendali terhadap ruangan dimana dia akan tampil, dia bisa membuat pengaturan terhadap tata panggung dan tempat duduk penonton. Selain itu, ia bisa mencoba tampil duet, daripada tampil sendirian. Kedua adalah dengan latihan mental. Dalam latihan ini, musisi diminta untuk membayangkan sejelas mungkin, apa yang akan dialaminya saat tampil. Latihan ini bertujuan menyiapkan badan dan pikiran agar otomatis bertingkah laku sesuai yang diharapkan ketika latihan.

Cara ketiga adalah dengan mengadakan gladi bersih; memainkan seluruh musik lengkap dengan kehadiran penonton. Jika memungkinkan, bawalah penonton-penonton yang suportif, seperti keluarga atau teman-teman. Strategi keempat adalah dengan latihan secara bertahap, dari yang mudah ke yang sulit. Contohnya misalnya, bermain sebuah komposisi mudah di hadapan seorang teman, di ruang latihan. Setelah merasa nyaman, coba mainkan komposisi lain di hadapan beberapa orang, di ruangan yang lebih besar. Dan seterusnya, hingga situasi yang lebih “sulit”.

Tugas Musikal Sebagai Sumber Kecemasan

Sumber kecemasan terakhir adalah tugas musikal yang harus dilakukan seorang musisi. Bentuknya adalah saat seorang musisi sering mempertanyakan dirinya, “apakah saya punya kemampuan untuk memainkan suatu komposisi musik?”

Memang, banyak dari kita percaya bahwa jika kita ingin berkembang, harus mendorong diri melebihi batas. Bagi sebagian musisi, hal tersebut bisa terwujud. Namun bagi sebagian lagi, kepercayaan itu justru akan berubah menjadi mimpi buruk. Mereka akan menghabiskan waktu latihan demi penguasaan teknis musik, dan tak punya waktu untuk menginterpretasi musik tersebut, sehingga tidak akan bisa berekspresi maksimal.

Kunci bagi musisi untuk menghadapi tekanan dari tugas musikal ini adalah dengan mencari keseimbangan antara tugas musikal dengan kemampuan yang dimiliki. Musisi harus realistis saat memilih musik yang akan dibawakan, baik itu dalam hal waktu dan usaha ketika mempersiapkannya. Jangan memilih musik dengan komposisi sulit jika harus tampil keesokan harinya. Selain itu, untuk menambah motivasi, musisi bisa memilih musik/lagu/komposisi yang mereka suka atau nikmati.

Hadapi Tantangan

Demam panggung sangatlah tak terhindarkan bagi seorang musisi, namun bukan tanpa solusi. Itu adalah tantangan bagi setiap penampil. Mengubah pola pikir, mengendalikan situasi sebelum tampil dan juga realistis dalam pemilihan komposisi yang akan dibawakan, menjadi beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk menhadapinya. Harapannya, dengan menerapkan strategi-strategi tersebut, seseorang akan bisa menampilkan musik dengan benar, sekaligus mampu mengekspresikan diri di hadapan penonton.

Selamat mencoba!

Rujukan

Lehman, Andreas C., Sloboda, John A., Woody, Robert H. Psychology for Musicians. 2007. New York: Oxford University Press.

Wikipedia Artur Rubinstein

Wikipedia Vladimir Horowitz

Wikipedia Barbra Streisand

Wikipedia John Lennon

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar